4 September 2025
Tentang melanjutkan yang belum selesai
Ada folder di laptop saya namanya Later. Isinya bukan file yang gagal, tapi file yang belum tahu mau jadi apa. Saya tidak pernah membukanya untuk mengerjakan sesuatu — saya membukanya untuk memastikan barang-barang itu masih ada.
Pekerjaan saya sehari-hari menuntut hal yang berlawanan. Semua harus jadi. Ada tanggal, ada klien, ada versi final yang ditandai dengan huruf kapital. Dan saya suka itu. Ada kelegaan tertentu waktu sesuatu berhenti berubah.
Tapi saya mulai curiga bahwa kemampuan menyelesaikan sesuatu dan kemampuan membiarkan sesuatu tetap terbuka adalah dua otot yang berbeda, dan saya cuma melatih satu.
Yang hilang waktu semuanya selesai
Barang yang sudah jadi berhenti mengajukan pertanyaan. Dia punya jawaban, dan jawaban itu adalah dirinya sendiri. Sementara barang yang belum selesai masih menyimpan beberapa kemungkinan sekaligus — dan selama dia belum dipaksa memilih salah satunya, dia masih bisa mengejutkan saya.
Ini bukan argumen untuk tidak menyelesaikan apa-apa. Itu cuma cara halus untuk tidak pernah dinilai orang.
Yang saya maksud lebih kecil dari itu: punya satu tempat yang tidak diaudit. Tidak masuk portofolio, tidak dipresentasikan, tidak diberi nama file yang rapi.